Tafsir Ilmi; Kontroversi Seputar Tafsir Ilmi
Transcription Whisper (large-v3), avec identification des locuteurs. À recouper avec la source d'origine.
Analyse automatique
Générée par IA — peut contenir des erreurs. Méthodologie
Chapitres
Répartition du ton (temps de parole politique)
Propositif 85 %Attaque 5 %Défensif 10 %
Affirmations vérifiables (citations exactes)
- 2:17PrésentateurFait
« Karena Al-Quran merupakan kitab suci yang nilainya absolut »
- 10:08PrésentateurFait
« Dokter Abdul Aziz Ibrahim: Al-Quran memang bukan kitab kedokteran »
Temps de parole
- Présentateur79 %
- ?21 %
≈ 84,7 interruptions / 10 min (chevauchements et interjections détectés).
Modèle mistral-small-latest · prompt v1 · les citations sont vérifiées mot pour mot dans le transcript ; le taux de réponse directe est calculé à partir des verdicts question par question. Aucun label idéologique n'est produit.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillah
Amin
Bila
sta'inu ala umuridun yawtin Salat wassalam al-ashrafil ambya al-musalin Wa ala alihi wassalam al-asimai
Rabi
syuramhi sotayi wa siri amri wa halil afdata milisa riyak pauliyy Amin
Pertemu
kembali teman-teman Pada
Tema
kita Diskusi kita Tentang taksir ilmi
Gimana
pada Kesempatan kali ini
Kita
akan
Membahas
Tentang
Seputar
kontroversi Yang ada tentang Taksir ilmi
Apakah Taksir
ilmi ini keberadaannya Bisa diterima Ataukah juga Terdapat banyak penolakan Ataukah seperti apa Mari kita lihat
Jinkan
saya share screen dulu
Oke
Kontroversi Taksir ilmi Seperti yang kemarin kita Sebelum-sebelumnya kita bahas bahwa Taksir ilmi adalah Wawasan Al-Quran Tentang sains dan teknologi
Tau
tafsir yang memang Konsen
Dan
Corak penafsirannya Lebih kepada Membahas Ayat-ayat Kaunia Yang didekati dengan Ilmu pengetahuan modern
Nah
Taksir ilmi Diawali dengan
Sikap
pro kontra ini Sesungguhnya Kenapa Ya Karena Al-Quran Merupakan kitab suci
Yang
nilainya Absolut Al-Quran itu Kitab yang Suci Absolut Nilai kebenarannya Pasti Sementara Ilmu pengetahuan Atau sains
Itu
sifatnya Relatif
Jadi
kebenarannya Belum mutlak
Nah
Bagaimana Kita akan Menerapkan Sains Yang sifatnya Relatif
Terhadap Al
-Quran Yang sifatnya Absolut
Yang
sifatnya Mutlak Nah ini kan
Bede
sifat Kemudian bagaimana Kita Mendudukannya
Taufikat
Nan Amal Mengatakan bahwa Taksir ilmi Adalah penafsiran Yang berusaha Untuk Membuktikan Bahwa Sains Sains Modern Tidak bertentangan Dengan Al-Quran Dan bahkan
Sains
Modern Tersebut Dapat Diproduksi Dari Al-Quran
Ini
Taksir ilmi Pengen Mendekati Al-Quran Dengan Pendekatan Sains Sains Modern
Nah
Dari mana Kemunculan Taksir ilmi Ini
Nah
Taksir ilmi Ini Muncul Berawal dari Keyakinan Bahwa Al-Quran Itu Sebagai Bodeman Hidup
Yang
Memuat Seluruh Aspek Kehidupan Manusia
Di
Semua Aspek Kehidupan
Itu
Ada Dalam Al-Quran
Nah
Sebagian Ayat-ayat Al-Quran Membahas Tentang Persoalan Alam Jagat Fenomena Fenomena Ayat-ayat Kaunia
Nah
Padahal Padahal Pada umumnya Ayat-ayat Kaunia Ini Sering Diakhiri Dengan Perintah Untuk Berfikir
Afalat
Tata Fakharun Afalat Tata Debarun Afalat Agilun
Nah
Hal ini Oleh Sebagian Mufasa Dipandang Sebagai Indikasi Perintah Untuk
Perlu
Penaksiran Baru Terhadap Tersebut
Maka
Mulailah Disitu Muncul Timbul Pendekatan Ilmiah
Setelah
Tafsir Ilmi
Muncul
Apakah
Tidak
Ada Problem Nah Mulai Setelah Itu Mulai Ada Problem
Jika
Al-Quran Ditafsirkan Dengan Menggunakan Pendekatan Ilmiah
Maka
Teori-teori Dalam Ilmu Pengetahuan Terus Mengalami Dinamika Dan Perkembangan
Di
sifat Ilmu Pengetahuan Itu kan
Tesis
Antitesis
Kemudian Stesis
Sintesis
Antitesis Kemudian
Sintesis Nah Itu ya
Nah
Karena Sifatnya Yang Terus Berkembang Jadi Jadi Jori Tesis Menjadi Antitesis Antitesis Nanti ada Sintesis Nah Ini
Kebenaran
Ilmu Pengetahuan Itu
Relatif Nah
Apa yang menjadi Kebenaran Pada waktu tertentu Bisa jadi Mungkin Tidak relevan Pada waktu yang lain
Ya
Karena ada Temuan baru Teori baru Yang lebih relevan
Contoh Teori
Bumi Datar Merupakan Satu hukum Aksioma Pada suatu Masa
Akhirnya
Apa Tumbang Dengan hadirnya Teori Bumi Bulat Yang berkembang Kemudian
Teori
ini Mengatakan Bahwa Bumi Itu Loncong Seperti Bentuk
Telur
Demikian Pula Dengan Teori-teori Yang datang Kemudian
Nah
Ini Kalau Kita Kemudian Menjustifikasi Kebenaran Kebenaran Yang satu Yang
satu
Yang
satu
Pakai Ayat Ini Tidak Tidak Tidak Terjadi
Akhirnya
Ada Pro-kontra Siapa Yang Pro-terhadap Taksir Ilmi
Di
Antaranya Ada Al-Ghazali Dalam Jawa Hidul Quran Al-Ghazali Dengan Pendapatnya Dalam Ikhya Ul-Muddin Bahwa Segala Ilmu Yang Bersumber Dari Al-Quran
Begitu
Juga Dengan As-Suyuti Dalam Al-Iqon Mengungkapkan Bahwa Semua Ilmu Yang Berkembang Hari Sampai Hari Kiamat
Telah
Diungkap Dalam Al-Quran Dan Dapat Dieksplorasi Dari Al-Quran
Begitu
Juga Dengan Syekhtan Tawi Jawari Dalam Tafsir Jawahir Jawa Hirtta Jawahir Tafsir Al-Quran
Yang
Mengungkapkan Berbagai Macam Ilmu Ketauan Terutama Ketika Penafsiran Syekhtan Tawi Tidak Terbatas Pada Urean Dan Pendelasan Dalam Bentuk Kata-kata Tapi Ia
juga
Mengkaji Penafsiran Dengan Gambar-gambar Kemudian Rumus-rumus Kemudian Tumbuh-tumbuhan Dan lain
Sebagainya Nah
Di Pihak Lain Siapa Yang Kontra Dengan Tafsir Ilmi
Ada
Muhammad As-Syatibi
Yang
Dihitung Ulama Salaf Dalam Al-Mu'afakot Menolak Secara Tidak Langsung Tentang Adani Tafsir
Ya
Kenapa Karena Al-Quran Bukan Buku Pengetahuan Melainkan Al-Quran Itu Ya Adalah Kitab Hidayah
Jangan
Kemudian Ditarik-tarik Dengan Dengan Teori-teori Modern
Nah
Pendapat Ulama Kontemporer Ada Mahmud Shaltud Yang Merupakan Mantan
Rektor
Universitas Al-Azhar
Yang
Mengatakan Hendaknya Seorang Fasir Menghindarkan Diri Dari Pentakwilan Al-Quran Menurut Pendirian Berbagai Aliran Jadi Nanti Akhirnya Ditarik Ulur Jadi Ini Dijastifikasi Ini Menurut Ini
Karena
Hal Ini Akan Menyebabkan Pemaksaan Penaksiran Atau Takal Love
Jadi Takal
Love Itu Ya Bisa Seja Kalau Sekarang Ditamakan Cucukologi Dicocok Cocok
Sesuai
Dengan Para Fukoha Para Mutakal Ini Juga Dikritik Oleh Para Mahmud Shaltud Para Fukoha Yang Terlalu Takal Love Ini Terlalu Fanatik Akhirnya Timbulnya Malzah Malzah Ini Yang Bermasalah Terlalu Dejustifikasi
Gitu
Juga Dengan Mutakalimin Maupun Ahri Dasawuf Yang Cenderung Fanatik Terhadap Kelompok Masing-masing
Jadi
Hendaknya Jadi Keduanya Hendaknya Atau Semua Pihaknya
Hendaknya
Menjauhkan Dari Upaya Menaksirkan Al-Quran Dengan Menggunakan
Teori
-teori Ilminya Jadi
Ya
Biarkan Al-Quran Itu Bicara Sendiri
Tidak
Harus Kemudian Didetailkan Menggunakan Teori-teori
Ilminya Tapi
Ada Pendapat Tengah Juga
Pendapat
Dari Seorang Ahli Kedokteran Dia Menulis Dalam Bukunya
Al
-Kitab
Jadi
Jadi Dia Dia Bila Begini Dokter Abdul Aziz Ibrahim Al-Quran Memang Bukan Kitab Kedokteran Bukan Pula Kitab
Teknik Atau
Kitab Astronomi Bukan Tetapi
Tidak
Dipungkiri Bahwa Di Dalamnya Terdapat Beberapa Ayat
Yang
Memberikan Isyarat Isyarat Berkaitan Dengan Hukum Alam
Dan
Sunatullah
Yang
Mana
Hal
Tersebut Secara Detail Dapat Dirujuk Melalui Ilmu Ilmu Melalui Ilmu Ilmu Pengetahuan Modern Tersebut
Maka
Dari Itu Akhirnya Didekati Akhirnya Dijelaskan Karena
Memang
Dalam Al-Quran Sendiri Ada Memuat Ayat Ayat Yang Berkaitan Dengan
Sikap
Kita Apa
Agar
Kita Tidak Terjebak Pada Sikap Apologis Tidak Mau Tau Atau Agar Kita Tidak Terjebak Pada Sifat Yang Tak Asop Terhadap Satu Pendapat
Pokoknya
Saya Setuju Ini
Dan Juga
Supaya Kita Tidak Pada Posisi A priori Sembual Pokoknya
Apa
Yang Harus Kita Lakukan Satu Bersifat Moderat Tidak Berlebihan Dalam Mengaitkan Teori Pengetahuan Dengan Al-Quran Yos Seadanya Aja Maksudnya Tidak Perlu Kemudian Kita Terlalu Mengaitkan Dengan Teori Pengetahuan Secara Detail
Yang
Kedua
Mufasir
Hendaknya Berpegang Pada Kebenaran Ilmiah Yang Sudah Ngapan Atau Fix Teori Bukan Pada Kebenaran Ilmiah Yang Masih Asumtif Atau Bahkan Predictif
Ketiga
Hendaklah Menjauhi Pemaksaan Diri Tau Tadi Takalov Tata Asumt Dalam Memahami Tekst Al-Quran
Yang
Berkaitan Dengan Ilmu Pengetahuan Pemahaman Atau Penaksiran Harus Tetap Berpegang Pada Konteks Kesejarahan
Konteks
Sastra
Dan
Makna Makna Yang Masih Mungkin Atau Makna Al
-Quran
Harus Tetap Berpegang Pada Kaedah Penaksiran Kaedah Ulumul Quran
Jadi
Itu Tidak Boleh Dilepaskan
Kemudian
Yang keempat Kita harus Menghindari
Tuduhan
Tertentu Kepada Seorang Penaksir Ilmi
Secara
Kesel Tidak Boleh Kemudian Kita Juga Tasok Fanatik Menyalahkan Menolak
Tidak
Boleh
Produk
Taksir Ilmi Hendaknya Tidak Kita Klaim Satu-satunya Makna Yang Dih Hendak
Taksir
Ilmi Produknya Ini Jadi Tidak Boleh Kita Klaim Bahwa Memang Seperti Itu Pokoknya Penaksirannya Itu Pasti Seperti Tidak Boleh
Ini
Juga Yang Harus Dijauhi Tidak Hanya Pada Taksir Ilmi Tapi
Sikap
Yang Harus Dijauhi Oleh Seorang Fasir Jika Menaksirkan Al-Quran
Baik
Pendekatannya Bisa Ilmi
Atau
Pendekatannya
Tidak
Boleh Kita Menganggap Bahwa Penaksiran Itu Menjadi Sesuatu Satu-satunya Makna Yang Dijauh Oleh Allah Subhanahu
Afalata
Mari kita Berfikir bersama Menyelami
Dalamnya
Samudera Al-Quran Jadi
Kita
Menganalisis Bersama
Apa
yang Diberikan Oleh Al-Quran
Ayat
-ayat Yang telah Di Diungkapkan Ayat-ayat Yang telah Dipaparkan Dalam Al-Quran Mari kita Renungkan Dengan tujuan Apa? Supaya Lebih Memperkuat Keimanan Kita Supaya Lebih Meyakinkan Kita Akan Akan Keberagamaan Dan Keimanan
Kita Itu
saja Dari Saya Semoga Ada Manfaatnya Kurang Lebihnya Mohon maaf Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh